www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws       www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws www.Bigoo.ws

Scroll images by bigoo.ws






<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

WAKTU SHALAT
(Hayoo pada shalatttt)


Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

  • Ust Hasan Firdaus
  • Yanti Afriyani
  • Aa Iskandar



  • Dunia Pernikahan
  • KotaSantri

  • MySpace Layouts

    MySpace Layouts


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



     
    Oct 21, 2006
    Makna Sebuah Janji Dihadapan Allah

    Fenomena yang seringkali terjadi di tengah masyarakat adalah adanya sepasang kekasih yang memadu janji untuk saling memiliki dan nantinya akan membangun mahligai rumah tangga.

    Hampir di setiap wilayah kehidupan kita mendapati adanya dua sejoli memadu kasih dan saling mengikat diri dengan janji-janji. Bahkan terkadang hal yang sama meski tidak terlalu vulgar, terjadi juga pada para aktifis dakwah. Barangkali karena frekuensi pertemuan di antara mereka yang lumayan sering, sehingga menimbulkan jenis perasaan tertentu yang sulit digambarkan.

    Barangkali kondisi ini agak dilematis. Sebab di satu sisi mereka paham bahwa hubungan antara pria dan wanita itu terbatas, namun di sisi lain di dalam jiwa mereka yang masih muda ada perasaan yang mendorong untuk tertarik dengan sesama rekan aktifisnya yang lain jenis. Interaksi yang intensif dan tuntutan dinamika pergerakan terkadang ikut menyuburkan perasaan-perasaan `aneh` itu.

    Maka istilah CBSA terdengar dengan singkatan Cinta Bersemi Setelah Aksi. Hubungan yang awalnya agak kaku, tertutup, terhijab mulai mencair dan terasa lebih melegakan. Namun terkadang ada kasus dimana keterbukaan itu tidak hanya berhenti sampai disitu, lebih jauh sampai kepada hal-hal yang lebih pribadi dan ujung-ujungnya adalah sebuah janji untuk nantinya menikah.

    Bagaimanakah syairat Islam memandang fenomena ini, khususnya janji antara dua sejoli untuk menikah ? Adakah landasan syar`inya ? Bisakah hal itu dibenarkan ?

    I. Hukum Berjanji

    Berjanji itu harus ditepati dan melanggar janji berarti berdosa. Bukan sekedar berdosa kepada orang yang kita janjikan tetapi juga kepada Allah. Dasar dari wajibnya kita menunaikan janji yang telah kita berikan antara lain adalah :

    a. Perintah Allah SWT dalam Al-Qurân Al-KarûŠ

    Allah SWT telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk melaksanakan janji-janji yang pernah diucapkan.

    Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu . Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.(QS. An-Nahl : 91)

    Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan karena kamu menghalangi dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.(An-Nal : 94)

    b. Menunaikan Janji Adalah Ciri Orang Beriman

    Allah menyebutkan dalam surat Al-Mu`minun tentang ciri-ciri orang beriman. Salah satunya yang paling utama adalah mereka yang memelihara amanat dan janji yang pernah diucapkannya.

    Telah Beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.(QS. Al-Mu`minun : 1-6)

                              

                                  1. Ingkar Janji Adalah Perbuatan Syetan

    Ingkar janji itu merupakan sifat dan perbuatan syetan. Dan mereka menggunakan janji itu dalam rangka mengelabuhi manusia dan menarik mereka ke dalam kesesatan. Dengan menjual janji itu, maka syetan telah berhasil menangguk keuntungan yang sangat besar. Karena alih-alih melaksanakan janjinya, syetan justru akan merasakan kenikmatan manakala manusia berhasil termakan janji-janji kosongnya itu.

    Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.(QS. An-Nisa : 120)

    d. Ingkar Janji Adalah Sifat Bani Israil

    Ingkar janji juga perintah Allah kepada Bani Israil, namun sayangnya perintah itu dilanggarnya dan mereka dikenal sebagai umat yang terbiasa ingkar janji. Hal itu diabadikan di dalam Al-Quran Al-Kariem.

    Hai Bani Israil , ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut .(QS. Al-Baqarah : 40)

                                
    2. Janji Yang Mungkar

    Namun janji itu hanya wajib ditunaikan manakala berbentuk sesuatu yang hala dan makruf. Sebaliknya bila janji itu adalah sesuatu yang mungkar, haram, maksiat atau hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan syariat Islam, maka janji itu adalah janji yang batil. Hukumnya menjadi haram untuk dilaksanakan.

    Misalnya seseorang berjanji untuk berzina, minum khamar, mencuri, membunuh atau melakukan kemaksiatan lainnya, maka janji itu adalah janji yang mungkar. Haram hukumnya bagi seorang muslim untuk melaksanakan janjinya itu. Meski pun ketika berjanji, dia mengucapkan nama Allah SWT atau sampai bersumpah. Sebab janji untuk melakukan kemungkaran itu hukumnya batal dengan sendirinya.

    Dalam kasus tertentu, bila seseorang dipaksa untuk berjanji melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam, tidak ada kewajiban sama sekali baginya untuk menunaikannya. Misalnya, seorang prajurit muslim dan disiksa oleh lawan. Lalu sebagai syarat pembebasan hukumannya, dia dipaksa berjanji untuk tidak shalat atau mengerjakan perintah agama. Maka bila siksaan itu terasa berat baginya, dia diberi keringanan untuk menyatakan janji itu, namun begitu lepas dari musuh, dia sama sekali tidak punya kewajiban untuk melaksanakan janjinya itu. Sebab janji itu dengan sendirinya sudah gugur.

    Dalam kasus Amar bin Yasir, hal yang sama juga terjadi dan Allah SWT memberikan keringanan kepadanya untuk melakukannya.

    Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman , kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman , akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.(QS. An-Nah; : 106)

     

    II. Janjian Untuk Menikah

    Janji yang diucapkan oleh laki-laki yang bukan mahram dan bukan dalam status mengkhitbah itu tidak mengikat buat seorang wanita untuk menikah dengan orang lain atau menerima khitbah dari orang lain. Karena itu baru sekedar janji dan bukan khitbah.

    Jadi di tengah jalan, wanita itu sah-sah saja bila menikah dengan orang lain dengan atau tanpa alasan apapun. Kecuali bila anda telah mengkhitbahnya/melamarnya secara syar`i. Karena khitbah memiliki kekuatan hukum yang mengikat calon pengantin wanita.

    Sebenarnya dalam Islam tidak dikenal janji seperti itu karena memang tidak memiliki kekuatan hukum. Jadi tidak ubahnya seperti pacaran dan janji-janji sepasang kekasih yang kedudukannya tidak jelas.Janji untuk menikahi yang dikenal dalam Islam adalah khitbah itu sendiri. Ini adalah sejenis ikatan meski belum sampai kepada pernikahan. Begitu menerima dan menyetujui suatu khitbah dari seorang laki-laki, maka wanita itu tidak boleh menerima lamaran orang lain. Meski belum halal, tetapi paling tidak sudah berbentuk semi ikatan. Orang lain tidak boleh mengajukan lamaran pada wanita yang sedang dalam lamaran.

    Menurut hemat kami, bila memang masih jauh untuk siap menikah, sebaiknya anda tidak usah terlalu memberi perhatian dalam masalah hubungan dengan wanita terlebih dahulu. Apapun bentuknya. Dan tidak perlu membentuk hubungan khusus dengan siapa pun. Nanti pada saatnya anda siap berumah-tangga, maka silahkan ajukan lamaran kepada wanita yang menurut anda paling anda sukai. Jadi lebih real dan lebih pasti.

    Dan ketahuilah bahwa para wanita umumnya lebih suka pada sesuatu yang pasti ketimbang digantung-gantung tidak karuan. Atau diberi janji-janji yang tidak jelas apa memang mungkin terlaksana atau hanya gombalisme belaka.


    Posted at 08:37 am by kormi
    Make a comment  

    Cara Terbaik Melamar Wanita Sholihah

    eramuslim.com

    Assalamua'alaikum wr. wb.

    Ibu Anita yang terhormat. Permasalahan saya sebenarnya tidak tergolong berat jika dibandingkan dengan masalah-masalah lainnya yang sudah saya baca di rubrik Konsultasi Keluarga ini. Ibu, beberapa bulan ini hatiku risau, saya sedang jatuh cinta dengan seorang rekan kerja di kantor. Saya sudah mengenalnya cukup lama, ia seorang wanita sholehah, aktivis suatu partai keagamaan, perangainya juga sangat baik. Pokoknya ia merupakan gambaran wanita ideal yang selama ini saya idamkan. Akhirnya saya memutuskan untuk melamarnya, karena saya tidak ingin hatiku gelisah terus menerus yang pada akhirnya akan mengganggu ibadah saya karena terus memikirkan dia. Menurut Ibu, cara terbaik yang bagaimana yang harus saya lakukan? Apakah saya harus meminangnya secara langsung lewat perantara teman, atau saya menulis surat kepadanya menyatakan keinginan saya untuk melamarnya?

    Saat ini saya berencana untuk mengirim surat untuknya lewat perantara teman yang dekat dengannya. Terus terang, saya belum ada keberanian menemuinya langsung, selain hati saya selalu diliputi khawatir ditolak, juga pada dasarnya seorang pemalu, karena saya jarang dekat dengan seorang wanita sebelumnya dan juga saya pantang berpacaran. Mohon saran dan pendapat dari ibu. Terima Kasih.

    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    Dino
    Jawaban

    Assalammu'alaikum wr. wb.

    Saudara Dino yang dirahmati Allah, Tidak mudah memang mengambil langkah besar melamar seorang wanita. Di manapun lelaki biasanya merasa deg-degan untuk memulainya. Ada perasaan takut ditolak serta harapan untuk diterima membuat langkah jadi maju mundur. Tapi memang harus ada keberanian untuk mencoba agar jelas dan tak mati penasaran dibuatnya.

    Melamar wanita memang dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung anda dapat saja langsung menghadap pada walinya untuk menyatakan lamaran. Namun cara demikian memang lebih beresiko karena si wanita dalam keadaan yang benar-benar tidak siap.


    Sedangkan cara lain memang langsung bertanya pada wanita tersebut dengan langsung menyatakan maksud atau hanya dengan sindiran.

    Dan melalui perantara juga bisa saja dilakukan sebagaimana dulu Khodijah r.a. melamar Rasulullah pun melalui perantara. Intinya cara manapun dapat anda lakukan selama cara tersebut tidak melanggar nilai moral dan agama, seperti hanya mengajak si wanita pergi berdua dengan anda ke tempat sepi. Melamar pun tetap harus didampingi mahrom. Setelah melamar, pasrahkan semuanya kepada Allah, ditolak atau diterima jangan risaukan, yang penting anda sudah berusaha. Dan tak perlu merasa malu dan rendah diri jika ditolak, karena anda tidak sendirian banyak lelaki pernah mengalami yang anda alami. Jangan berputus asa melamar wanita sholehah setelahnya, penolakan bukan berarti anda buruk tapi mungkin dia bukan yang terbaik untuk anda. Allahu akbar, selamat berusaha.

    Wassalammu'alikum wr. wb.
    Rr. Anita W.


    Posted at 08:32 am by kormi
    Make a comment  

     
    Oct 10, 2006
    Kupinang Engkau Dengan Hamdallah

    "Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah diciptakannya pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung padanya. Dan Allah menjadikan di antara kalian perasaan tenteram dan kasih sayang. Pada yang demikian ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir." (QS: Ar-Rum-21)

    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------

    Ketika tiba masa usia aqil baligh, maka perasaan ingin memperhatikan dan diperhatikan lawan jenis begitu bergejolak. Banyak perasaan aneh dan bayang-bayang suatu sosok berseliweran tak karuan. Kadang bayang-bayang itu menjauh tapi kadang terasa amat dekat. Kadang seorang pemuda bisa bersikap acuh pada bayang-bayang itu tapi kadang terjebak dan menjadi lumpuh. Perasaan sepi tiba-tiba menyergap ke seluruh ruang hati. Hati terasa sedih dan hidup terasa hampa. Seakan apa yang dilakukannya jadi sia-sia. Hidup tidak bergairah. Ada setitik harapan tapi berjuta titik kekhawatiran justru mendominasi.

    Perasaan semakin tak menentu ketika harapan itu mulai mengarah kepada lawan jenis. Semua yang dilakukannya jadi serba salah. Sampai kapan hal ini berlangsung? Jawabnya ada pada pemuda itu sendiri. Kapan ia akan menghentikan semua ini. Sekarang, hari ini, esok, atau tahun-tahun besok. Semakin panjang upaya penyelesaian dilakukan yang jelas perasaan sakit dan tertekan semakin tak terperikan. Sebaliknya semakin cepat /pendek waktu penyelesaian diupayakan, kebahagiaan & kegairahan hidup segera dirasakan. Hidup menjadi lebih berarti & segala usahanya terasa lebih bermakna.

    Penyelesaian apa yang dimaksud? Menikah! Ya menikah adalah alat solusi untuk menghentikan berbagai kehampaan yang terus mendera. Lantas kapan? Bilakah ia bisa dilaksanakan? Segera! Segera di sini jelas berbeda dengan tergesa-gesa. Untuk membedakan antara segera dengan tergesa-gesa, bisa dilihat dari dua cara :

    Pertama, tanda-tanda hati. Orang yang mempunyai niat tulus, kata Imam Ja'far, adalah dia yang hatinya tenang, sebab hati yang tenang terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niat murni untuk Allah dalam segala perkara. Kalau menyegerakan menikah karena niat yang jernih, Insya Allah hati akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan & kekhawatiran meliputi dada. Lain lagi dengan tergesa-gesa. Ketergesaan ditandai oleh perasaan tidak aman & hati yang diliputi kecemasan yang memburu.

    Kedua, tanda-tanda perumpamaan. Ibarat orang bikin bubur kacang hijau, ada beberapa bahan yang diperlukan. Bahan paling pokok adalah gula & kacang hijau. Jika gula & kacang hijau dimasukkan air kemudian direbus, maka akan didapati kacang hijau tidak mengembang. Ini namanya tergesa-gesa. Kalau gula baru dimasukkan setelah kacang hijaunya mekar ini namanya menyegerakan. Tapi kalau lupa, tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup lama orang akan kehilangan banyak zat gizi yang penting.

    Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda : "Tiga orang yang selalu diberi pertolongan Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar & seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya" (HR Thabrani)

    Banyak jalan yang dapat menghantarkan orang kepada peminangan & pernikahan. Banyak sebab yang mendekatkan dua orang yang saling jauh menjadi suami istri yang penuh barakah & diridhai Allah. Ketika niat sudah mantap & tekad sudah bulat, persiapkan hati untuk melangkah ke peminangan. Dianjurkan, memulai lamaran dengan hamdalah & pujian lainnya kepada Allah SWT. Serta Shalawat kepada Rasul-Nya. Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : "Setiap perkataan yang tidak dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu sedikit barakahnya (terputus keberkahannya)" HR Abu Daud, Ibnu Majah & Imam Ahmad.

    Setelah peminangan disampaikan, biarlah pihak wanita & wanita yang bersangkutan untuk mempertimbangkan. Sebagian memberikan jawaban segera, sebelum kaki bergeser dari tempat berpijaknya, sebab menikah mendekatkan kepada keselamatan akhirat, sedang calon yang datang sudah diketahui akhlaqnya, sebagian memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memberi kepastian apakah pinangan diterima atau ditolak, karena pernikahan bukan untuk sehari dua hari.

    Apapun, serahkan kepada keluarga wanita untuk memutuskan. Mereka yang lebih tahu keputusan apa yang terbaik bagi anaknya. Anda harus husnudzan pada mereka. Bukankah ketika meminang wanita berarti anda mempercayai wanita yang diharapkan oleh anda beserta keluarganya.

    Keputusan apapun yang mereka berikan, sepanjang didasarkan atas musyawarah yang lurus, akan baik dan Insya Allah memberi akibat yang baik bagi anda. Tidak kecewa orang yang istikharah & tidak merugi orang yang musyawarah. Maka apapun hasil musyawarah, sepanjang dilakukan dengan baik, akan membuahkan kebaikan. Sebuah keputusan tidak bisa disebut buruk atau negatif, jika memang didasarkan kepada musyawarah yang memenuhi syarat, hanya karena tidak memberi kesempatan kepada anda untuk menjadi anggota keluarga mereka. Jika niat anda memang untuk silaturrahim, bukankah masih tersedia banyak peluang untuk menyambung?

    Anda telah meminangnya dengan hamdalah, anda telah dimampukan datang oleh Allah Yang Maha Besar. Dia-lah Yang Maha Lebih Besar. Semuanya kecil. Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabbah tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan : "Jika pinangan kami anda terima, kami ucapkan Alhamdulillah. Dan kalau anda menolak, maka kami ucapkan Allahu Akbar." Maka, kalau pinangan yang anda sampaikan ditolak, agungkan Allah, semoga anda tetap berbaik sangka kepada Allah & juga kepada keluarganya. Sebab bisa jadi, penolakan merupakan jalan pensucian jiwa dari kedzaliman diri sendiri, bisa jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan, kemantapan & kejernihan niat. Sementara ada banyak hal yang dapat mengotori niat. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat anda, kecuali anda justru malah merendahkan diri sendiri. Tapi hati perlu diperiksa, jangan-jangan perasaan itu muncul karena ujub.

    Kekecewaan, mungkin saja timbul. Barangkali ada perasaan yang perih, barangkali juga ada yang merasa kehilangan rasa percaya diri saat itu. Ini merupakan reaksi psikis yang wajar, kecewa adalah perasaan yang manusiawi, tetapi ia harus diperlakukan dengan cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan ke jurang kenistaan yang sangat gelap. Kecewa memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa, mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Sekilas nampak tidak ada masalah, tetapi setiap saat berada dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah bangkit lagi dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian tidak dikehendaki Islam. Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang perlahan-lahan secara wajar. Sehingga kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan dengan tidak kehilangan obyektivitas & kejernihan hati, kita menjadi lebih tegar, meskipun proses yang dibutuhkan untuk menghapus kekecewaan lebih lama.

    Kalau anda merasa kecewa, periksalah niat anda. Dibalik yang dianggap baik, mungkin ada niat yang tidak lurus. Periksalah motif-motif yang melintas dalam batin. Selama peminangan hingga saat menunggu jawaban. Kemudian biarkan hati memproses secara wajar sampai menemukan kembali ketenangan secara mantap.

    Tetapi kalau jawaban yang diberikan oleh keluarga wanita sesuai harapan, berbahagialah sejenak. Bersyukurlah. Insya Allah kesendirian yang dialami dengan menanggung rasa sepi sebentar lagi akan menghapus kepenatan selama di luar rumah. Insya Allah sebentar lagi.

    Tunggulah beberapa saat. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk melakukan apa saja yang menjadi hak anda bersamanya. Akan tiba masanya anda merasakan kehangatan cintanya. Kehangatan cinta wanita yang telah mempercayakan kesetiaannya kepada anda. Setelah tiba masanya, halal bagi anda untuk menemukan pangkuannya ketika anda risau.

    Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. Melalui pernikahan Allah memberikan banyak keindahan & kemuliaan. Wanita boleh menawarkan Islam memberikan penghormatan yang suci kepada niat & ikhtiar untuk menikah. Nikah adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan biologis dengan lawan jenis. Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kehormatan agamanya, dan kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah r.a atas teladan bagi wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri.

    Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlaq & kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah & untuk mendapatkan pahala-Nya, Allah pasti mencatatnya sebagai kemuliaan & mujahadah yang suci. Tidak peduli tawarannya diterima atau ditolak, terutama kalau ia tidak mempunyai wali. Insya Allah, jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan yang mendalam pasti akan meninggikan penghormatan seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah & tidak memiliki kehormatan, kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan.

    Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah SAW dan berkata : "Ya Rasulullah! Apakah baginda membutuhkan daku?" Putri Anas yang hadir & mendengarkan perkataan wanita itu mencela sang wanita yang tidak punya harga diri & rasa malu, "Alangkah sedikitnya rasa malunya, sungguh memalukan, sungguh memalukan." Anas berkata kepada putrinya : "Dia lebih baik darimu, Dia senang kepada Rasulullah SAW lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau!" (HR Bukhari).

     

    Karya : M.faudzil 'adhim
    Sumber : www.aldakwah.com dan www.prayoga.net


    Posted at 08:52 am by kormi
    Comment (1)  

    Menikahlah Dengan Perasaan & Hati, Bukan Dengan Logika

    Sepenggal Pedoman Hidup dari Teman-teman saya dan dari Pengalaman yang
    telah saya dapatkan..

    Dalam Pernikahan banyak hal yang harus kita perhatikan, salah satunya cinta, perasaan dan uang. Ketiga hal tersebutlah yang kadangkala membuat kita bingung harus pilih yang mana. Namun pada dasarnya hanya diri kitalah yang tahu siapa yang akan menjadi pendamping hidup kita yang benar- benar tepat.

    Janganlah terlalu cepat menilai seseorang dari penampilan pisik dan seabreg kelebihan-kelebihan lainnya, karena semua itu kadangkala hanyalah sebuah topeng yang akan jelas terlihat setelah kita hidup bersamanya.

    Hidup adalah sebuah pilihan yang harus ditempuh setiap orang dan allah telah menetapkan takdir setiap manusia dimuka bumi atas kehendaknya yang tidak bisa dirubah oleh siapapun. Dan kita sebagai makhluk ciptaanNya hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mendapatkan apa yang terbaik dalam hidup dan tentunya dengan extra kerja keras.

    Tak ada rasa penyesalan yang dalam atas pilihan hidup yang telah kita lalui karena pada akhirnya kita hanya akan menyalahkan Tuhan... naudzubillah...

    Masa pahit yang telah kita lalui jangan-lah dijadikan alasan atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita buat, justru rasa pahit itulah yang kita jadikan cambuk atas apa yang kita lakukan agar kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih lebih lebih.

    * Pernikahan harus didasari cinta karena tanpa cinta hati kita akan mati, kita menikahi seseorang bukan hanya terpaku apa yang ada di raga orang tersebut tetapi seluruh jiwa dan raganyalah yang kita nikahi, jadi sekali kita memutuskan tuk menikah hanya sekali itulah cinta kita berlabuh kedalam hatinya.

    * Pernikahan harus pula didukung oleh perasaan karena tanpa perasaan, cinta kita akan mati dan tanpa cinta perasaan kita akan hilang. The point is : Cinta dan perasaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan Karena dua hal tersebut berasal dari satu hati yang sama.

    Memang benar kadangkala Cinta membutakan perasaan kita, namun seberapa buta diri kita nantinya hanya kitalah yang mampu merubahnya.

    * Memang uang menjadi salah satu dari sekian banyak kasus perceraian, namun janganlah kita mendewakan uang karena itu hanyalah titipan Tuhan yang dapat diambil dan dikembalikan kepada kita hanya semudah membalikan telapak tangan. Berapapun gaji yang diterima oleh masing 2 pasangan kita, kita harus bersyukur karena coba tengok kebelakang ...berapa ribu orang yang mengemis, menganggur, mengamen dijalan karena mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap. Semakin kita bersyukur atas apa yang kita terima...insya Allah...Allah akan menambah Rizki kita dalam hitungan sepersekian detik.

    Cobaan dalam rumah tangga memang tidak sedikit...sekecil apapun masalahnya akan tetap menjadi masalah yang harus secepatnya diselesaikan. Dari pengalaman hidup yang saya alami ada beberapa hal yang mungkin sedikit dapat membantu kita menyelesaikan setiap konflik atau mungkin menjaga agar konflik tersebut tidak sampai hadir dalam rumah tangga kita.

    1. Usahakan untuk tetap berkomunikasi dengan masing masing pasangan walaupun hanya dalam hitungan detik karena dengan begitu pasangan kita akan merasa dihargai dan akan melakukan hal yang sama.

    2. Jangan biarkan masalah menginap satu malam diatas tempat tidur kita....sebelum kita memutuskan untuk tidur, masalah tersebut haruslah sudah selesai dengan kata MAAF, karena kita tidak akan pernah apakah kita akan bangun lagi dikeesokan harinya sebelum mengucapkan maaf.

    3. Cobalah untuk diam dikala salah satu dari kita dalam kondisi marah, dan barulah kita, masuk setelah marah dalam dirinya sudah mulai reda.

    4. Berilah kepercayaan penuh kepada pasangan kita, insya allah dia akan menjaga kepercayaan yang kita berikan.

    5. Hindari rasa cemburu yang membabi buta tanpa alasan yang jelas. Be Positive for Everything he/she does.

    6. Cobalah tuk bersikap terbuka satu sama lain dengan menyebutkan kelebihan dan kekurangan masing masing kita tanpa rasa beban...
    misalnya:
    Aku ngga suka atas apa yang kamu lakukan......bla bla bla.. Sayang .. .kamu kelihatan cantik sekali hari ini. Berilah pujian walaupun sedikit dan sederhana dan jangan lah jadikan kekurangan pasangan kita sebagai senjata tuk melemahkannya dikala kita bertengkar.

    7. Ucapkan kalau kita mencintainya setiap kali kita mau tidur, bangun tidur, ngobrol dan hal itu harus dilakukan setiap hari. Memang sederhana ....namun khasiatnya sangatlah luar biasa..kita akan merasa memiliki satu sama lain dan batin batin kita terdapat sebut tali pengikat yang sangat kuat, dimanapun kita berada, dia selalu ada dalam hati kita dan menemani setiap aktifitas yang kita lewati sehari hari.

    8. Jadikan pasangan kita sebagi Teman, Sahabat, Kakak, Adik, Suami, Istri dan Pengganti dari orang tua kita dan Insya Allah pertengkaran itu dapat dihindari.

    9. Buang jauh segala permasalahan hidup diluar dan jangan dibawa pulang kerumah.. bedakan mana rumah, mana kantor.

    10. Buatlah rumah kita sebagai tempat peristirahatan, peredam, penyelesaian konflik atas semua permasalahan hidup yang kita hadapi.

    Konflik akan selalu ada dalam kehidupan ini, tinggal bagaimana kita menyikapi atas setiap konflik yang ada secermat, searif dan sebijaksana mungkin.

    MENIKAHLAH DENGAN PERASAAN DAN HATI DAN BUKAN DENGAN LOGIKA, KARENA KITA TAK AKAN PERNAH TAHU APAKAH LOGIKA KITA AKAN BENAR ATAU TIDAK TETAPI JIKA PERASAAN DAN HATI KITA YANG BERJALAN, INSYA ALLAH KITA TIDAK AKAN SALAH DALAM MEMBUAT PILIHAN DALAM HIDUP.


    Posted at 08:48 am by kormi
    Make a comment  

    Tanya Jawab "Antara Menikah & Sumber Penghasilan"

    Senin, 19 Jun 06 10:52 WIB

    Asw. wr. wb.

    Ibu anita yang saya hormati, saya ada beberapa pertanyaan, saya mohon bantuan atas masalah saya ini.

    Usia saya 22 tahun, saya berasal dari daerah. sementara ini saya ada di Jakarta. Saya ke Jakarta untuk belajar perbaikan HP, tapi saat ini saya magang kerja di sebuah tempat service HP.

    Di daerah saya menjalin hubungan dengan seorang gadis. Kami sudah berhubungan sejak Februari 2005, dan pada bulan agustus 2005 saya dan dia bertungangan. Sudah enam bulan saya tidak bertemu dia sejak saya ke Jakarta tapi selalu bertanya kabar melaui telepon.

    Perlu ibu ketahui, sebelumnya tunangan saya itu bekerja sebagai baby sister jauh dari rumah. Tapi semenjak kepergian saya, saya melarang dia bekerja dan memintanya diam di rumah dan sebagai gantinya saya mengirimi dia uang untuk kebutuhan sehari-hari. Alasan saya melarang dia bekerja karena saya takut terjadi hal negatif atas dirinya, sebab selama ini ada beberapa temannya yang bekerja tapi jadinya malah nggak baik.

    Ibu Anita yang baik.
    Sebenarnya saya sebentar lagi pulang ke daerah saya berniat membuka usaha di daerah saya, saya juga ingin segera menikahi tunangan saya itu, sebab saya nggak mau hubungan saya itu menarik saya pada perbuatan dosa.

    Namun ada beberapa hal yang membuat saya bingung. Saya bingung apakah harus menikah dulu kemudian buka usaha atau sebaliknya sebab saya takut nantinya usaha tidak dapat dijadikan sumber penghasilan yang bisa diandalkan.

    Selain itu saya bingung bagaimana menghadapi orang tua saya, sebab walaupun mereka merestui pertunangan saya, tapi mereka selalu menekankan agar saya sukses dulu baru menikah.

    Sebenarnya saya ingin menikah dan menjalankan usaha bersama isteri saya.

    Ibu Anita, saya mohon ibu memberikan saya saran apa yang sebaiknya saya lakukan, sebab saya sendiri tidak tahu kenapa, selalu saja ada dorongan dari dalam diri saya untuk segera berkeluarga. Tapi menghadapi kenyataan di atas membuat saya ragu dan bingung bagaimana pemecahannya.

    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    Edwin

    Jawaban

    Assalammu'alaikum wr. wb.

    Saudara Edwin yang baik,

    Nampaknya memang tidak mudah ya memilih apakah menikah dulu atau mendahulukan sukses dalam usaha. Apalagi di zaman sekarang di mana segalanya serba mahal, tentu membangun keluarga dengan perekonomian yang pas-pasan membuat hati jadi getir juga. Idealnya memang pernikahan dilakukan setelah hidup kita sukses dan orang tuapun mengharapkan dan demikian memang harapan orang tua.

    Namun dalam pandangan Islam pernikahan tidaklah selalu harus mengutamakan kemapanan terlebih dahulu. Dan dalam kondisi pergaulan serta godaan besar yang dialami para pemuda saat ini maka menjaga kesucian dan kehormatan memang seharusnya lebih diprioritaskan dibandingkan alasan lainnya.

    Menjaga kehormatan serta kesucian sangatlah ditekankan bagi para pemuda, karenanya banyak hadist maupun ayat-ayat dalam al-Qur'an yang menyinggung masalah tersebut. Islam menyadari beratnya godaan untuk mendekati zina, karenanya mulai dari adab pergaulan kepada lawan jenis, melakukan puasa sampai menganjurkan pada pernikahan dijadikan anjuran bagi pemuda untuk membentenginya.  

    Oleh karena itu ketika ada seorang pemuda miskin, sahabat Rasulullah, yang ingin menikah maka Rasulullahpun langsung memudahkan prosesnya meski pemuda itu hanya bermodalkan mahar sebuah cincin besi. Hal ini karena Allah menjamin bagi pemuda yang menjaga kesuciannya dengan menikah maka Allah juga akan memudahkan dan menambahkan rizkinya dan jaminan manakah yang lebih dapat dipercaya oleh orang beriman selain dari Tuhannya?

    Berdasarkan semua itu maka dari sudut pandang Islam anda sudah tahu jawabannya, bahwa Islam mengutamkan pernikahan demi menjaga kesucian. Ketika anda bertanya dapatkah isteri menjadi teman perjuangan membangun perekonomian, maka hal ini akan tergantung karakter isteri anda.

    Jika anda menikahi wanita sholehah, maka seharusnya ia bisa mendukung anda untuk berjuang membangun rumah tangga dari nol. Bukankah indah berjuang menggapai sukses dalam hidup bersama isteri yang kita cintai? Jika keraguan masih kuat anda rasakan maka lakukanlah sholat istikharoh agar dimudahkan oleh Allah kecenderungan hati untuk memilih. Wallahu'alambishshawab.

     

    Wassalammu'alaikum wr. wb.

    Rr. Anita W.


    Posted at 08:44 am by kormi
    Make a comment  

    Diperoleh Bila Seseorang Menikah

    Berikut ini apa yang bisa diperoleh bila seseorang menikah.

    1. Melengkapi agamanya.
    "Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

    2. Menjaga kehormatan diri.
    "Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

    3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia.
    "Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang." (Muhammad Nashiruddin Al Albani, Adab Az Zifaf, Media Hidayah, hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

    Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala

    4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah.
    Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda, "Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?" (Mereka menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda,) "Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala." (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masing nya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, "Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka'at Dhuha.") (Muhammad Nashiruddin Al Albani, Adab Az Zifaf, Media Hidayah, hal 125).

    5. Adanya saling nasehat-menasehati

    6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai.

    7. Pahala memberi contoh yang baik
    "Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun." (HR. Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)

    Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh > perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya?

    Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya

    8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama.

    Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: "Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." (HR Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga). Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata:Rasulullah SAW bersabda: "Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah." (HR. Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga).

    Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

    Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?" Beliau menjawab dengan bersabda, "Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka." (Muhammad Nashiruddin Al Albani, Adab Az Zifaf, Media Hidayah, hal 249).

    Dari Sa'ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: "Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu." (HR. Bukhari dan Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga)

    Dari Abdullah bin Amr bin 'Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja." (HR. Bukhari dan Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga).

    Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya." (Saba': 39).

    Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang lain berdoa: "Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir." (HR. Bukhari dan Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga).

    9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim.


    Posted at 08:41 am by kormi
    Make a comment  

    Nikah

    Dalam pandangan agama, nikah merupakan akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

     Adapun dasar yang menghalalkan nikah sebelum terjadinya hubungan suami istri adalah beberapa ayat Al-Qur'an, seperti firman Allah SWT:

    "Nikahilah olehmu perempuan yang kamu pandang baik bagimu, dua, tiga atau empat. Jika kiranya kamu takut tidak dapat berlaku adil di antara mereka, hendaklah kamu kawini seorang saja. " (QS An-Nisa [4]: 3).

    Selain Al-Qur'an, dasar yang lain berasal dari hadis Nabi seperti hadis Rasulullah SAW berikut:

    "Menikahlah, karena aku akan membanggakan kalian kepada umat yang lain pada hari kiamat." (HR Al-Baihaqi dan At-Tirmidzi).

    Nikah disunnahkan bagi orang yang sudah waktunya yang dipersyaratkan sudah memiliki mahar, baju untuk menikah dan biaya pernikahan. Ini dilakukan demi menjaga kesucian keberagamannya.

    Nikah menjadi makruh hukumnya bagi orang yang belum berhasrat untuk menikah dan tidak memiliki bekal untuk pernikahannya.

    Wanita Yang Layak Dinikahi

    Meskipun jodoh di tangan Allah, kita harus tetap mengusahakan untuk mendapatkan calon yang terbaik.

    Berikut beberapa kriteria wanita (juga bisa berlaku sebaliknya) yang layak dinikahi.

    Pertama, wanita yang taat menjalankan tuntunan agamanya. Ini seperti yang terdapat dalam hadis Rasulullah SAW, "Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu: hartanya, kecantikannya, keturunannya dan agamanya. Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan kategori terakhir." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasa'I dan Ibnu Majah).

    Kedua, wanita yang masih perawan, karena menikahi wanita yang perawan lebih baik daripada menikahi janda.

    Ketiga, wanita yang mempunyai garis keturunan yang jelas. Menikahi perempuan hasil hubungan gelap hukumnya makruh, kecuali jika ia berniat untuk mendapatkan pahala, karena ia ingin menjaga wanita itu agar tidak melakukan kesalahan yang sama dengan orangtua "gelap" nya.

    Keempat, wanita yang subur, penyayang, tidak bermuka masam di hadapan suami dan bukan kerabat dekat.

    Seorang pria diperbolehkan menikahi empat orang perempuan dalam satu waktu dan ini didasarkan pada firman Allah SWT, "Nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi, dua, tiga, atau empat." (QS An-Nisa [4]: 3).

    Jenis Pandangan

    Pandangan pria terhadap wanita dapat diklasifikasikan sbb.:

    Pertama, melihat perempuan lain yang bukan mahramnya. Seorang laki-laki tidak boleh melihat perempuan lain, selain wajah dan kedua telapak tangannya atau memandang wajah dan tangan dengan pandangan penuh syahwat. Jika memandang wajah dan tangan itu tanpa disertai dengan syahwat dan khawatir timbul fitnah, maka dibenarkan melihat kedua bagian itu. Hal inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. Bagi yang bukan mahramnya, aurat perempuan itu meliputi seluruh anggota tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Ketetapan hokum ini telah disepakati di kalangan ulama, paling tidak berdasarkan penuturan Qadhi 'Iyad Al Maliki dan Ibnu Hajar.

    Kedua, melihat istri. Seorang laki-laki boleh memegang dan melihat istrinya pada bagian manapun.

    Ketiga, laki-laki boleh melihat mahramnya, kecuali pada bagian antara pusar dan lutut. Mahram adalah semua wanita yang termasuk dalam kategori haram dinikahi untuk selama-lamanya disebabkan adanya hubungan nasab dan kekeluargaan.

    Keempat, lelaki boleh melihat perempuan yang hendak dinikahinya. Ini hanya dibenarkan pada bagian muka dan kedua telapak tangannya secara detail untuk mengetahui kecantikan dan kehalusan kulit tubuhnya. Ini didasarkan pada anggapan bahwa wajah itu symbol dari kehalusan kulit tubuh dan normalnya fungsi fisik.

    Kelima, lelaki boleh melihat perempuan dalam proses pengobatan. Dia dibenarkan melihat bagian-bagian yang dibutuhkan dalam proses pengobatan itu.


    Posted at 08:40 am by kormi
    Make a comment  

    Hamba Mencari Istri Sempurna

    Hamba mencari istri sempurna. Lelah hati dan jiwa. Hamba mencari kemana-mana, alhasil hamba tak sanggup temukan belahan jiwa itu. Setiap hari hamba berdoa, namun belum juga terkabul. Mungkin inilah perjuangan. Lama-lama hamba mulai menikmati kehidupan ini. Walaupun jemu pernah hinggap dalam kamus kehidupan hamba, meraung-raung dalam sunyi.

    Sungguh, di dunia yang maya ini, hamba mencoba menghindar dari gundukan dosa, namun laron-laron dosa itu sesekali berduyun mendekati hamba. Sekuat ruh hamba berlari-berlari menuju cahaya, dan konon, salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri. Ya, hamba mencari istri sempurna, agar hamba bisa menyempurnakan niat hamba, bercengkrama dengan cahaya sejati.

    Hamba bergelut dengan hari-hari, mencari secercah cahaya untuk bisa hamba huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hati hamba lagi. Hamba akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa hamba singkap keberadaannya, tak mampu hamba kuliti satu persatu apa gerangan yang diinginkan Allah. Tadinya hamba berpikir bahwa hamba telah mampu meredam satu niatan hamba itu, mengubur riak-riak kehidupan yang hamba bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakan telinga hamba, lalu hamba kembali terpuruk, pikiran hamba terhuyung-huyung melangkahkan kaki tak tentu arah.

    Suatu hari, hamba bertemu dengan mawar. Di taman itu ia hidup sendiri. Warnanya yang merah merekah membuat mata terkagum-kagum. Ingin rasanya hamba mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan segala keinginan.

    Sang mawar tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. Ya Tuhan harum sekali. Ya, ketika pagi merambat, hamba merasakan keharuman yang luar biasa. Merambat ke seluruh ubun-ubun, keharuman yang menakjubkan. Hamba memberanikan diri untuk menyapanya.

    "Selamat pagi, Mawar." Mawar tersenyum, senyum yang menyejukkan.

    "Selamat pagi. Ada apakah gerangan, sehingga pagi-pagi begini anda bertamu ke taman yang sepi ini?"

    "Hamba berniat mencari istri yang sempurna. Setiap hari tanpa sepengetahuan anda, hamba mengamati anda, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Anda telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Hamba pikir andalah yang hamba cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hamba untuk hidup dalam kembara."

    "Betulkah aku yang anda cari? Tak malukah anda menikah dengan bunga sederhana sepertiku? Apa yang membuat anda terkagum? Tak banyak yang bisa aku berikan untuk anda."

    "Mawar, sudah lama hamba mencari istri yang sempurna. Mungkin inilah harapan terakhir. Melihat warnamu yang memerah, hamba terkesima. Jika anda mengizinkan, hamba ingin melamar anda. Mari kita arungi bahtera hidup ini."

    "Kalau betul itu yang anda inginkan, baiklah. Tunggu barang satu minggu, setelah itu jenguklah aku kembali."

    "Terimakasih mawar. Ternyata hamba tak salah pilih. Seminggu lagi hamba akan kesini."

    Hamba lantas meninggalkannya sendiri di taman itu. Hamba pergi diiringi senyum yang dramatis. Hati hamba seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian hamba berakhir, hamba akan mendapatkan istri yang sempurna.

    Seminggu berlalu, hamba mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika hamba tiba di tempat itu, tiba-tiba hati hamba melepuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. Mawar yang akan hamba persunting, yang akan hamba petik ternyata tak lagi berada di tangkainya. Ia telah luruh ke tanah merah, beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya. Hamba tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi? Warna yang tadinya memerah, kini berubah kecoklat-coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. Hamba menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta mainan yang telah rusak. Dengan terbata-bata hamba berusaha menyusun kata-kata, menuai kalimat-kalimat. Namun mulut hamba teramat kelu, tak bisa lagi dengan sporadis menelurkan deretan huruf.

    "Selamat pagi. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidaksempurnaanku? Inilah aku, sang mawar yang sempat membuatmu terkagum. Mengapa wajah anda tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?"

    "Mengapa anda menjadi seperti ini? Apakah gerangan yang salah?"

    "Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. Hamba hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus hamba jalani."

    "Tapi hamba mencari istri yang sempurna, Mawar."

    "Jika demikian, aku bukanlah belahan jiwamu."

    Hamba beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang hamba bangun. Air mata menderas. Mawar yang sempat mencengkram jiwa, kini hanya onggokan ketakutan yang tak pernah hamba mimpikan sebelumnya.

    ***

    Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, hamba melihat merpati yang terbang, menari di udara. Sayap-sayapnya ia sombongkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi-lagi terbersit sebuah keinginan. Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga hamba bisa mendapatkannya. Merpati itu hinggap di ranting pohonan. Hamba memberanikan diri untuk memulai percakapan.

    "Wahai merpati, tadi hamba melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu putihmu yang kudus, menjadikan harapan dalam batin kembali tumbuh."

    "Apa yang hendak anda inginkan?"

    "Hamba mencari istri yang sempurna. Andalah yang hamba cari."

    "Betulkah aku yang anda cari?"

    "Ya tentu. Hamba ingin anda terbang bersama hamba, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan."

    "Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."

    "Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap anda? Anda mempunyai dua sayap yang indah dan memesona, sedangkan hamba hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya hamba adalah pemimpi yang takut dengan kehidupan."

    "Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, hamba aku bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa."

    Hamba tak bisa berkata banyak, merpati telah terbang bersama angin. Angin, oh...rupanya kekasih sejati merpati adalah angin. Hamba tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau hamba dengan paksa menikahi sang merpati? Dunia akan mencemooh hamba sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi hamba harus mencari pasangan jiwa?

    ***

    Itulah kabar hamba dulu. Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar di dasar palung jiwa hamba. Itulah gelagat hamba dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa. Begitu juga hamba. Ya, kabar hamba dulu! Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung kondor yang rindu bangkai-bangkai kematian. Dulu hamba tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Hamba nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan-angan, bertubi-tubi mulut hamba memukul angin.

    Sampai suatu malam, ketika keheningan mengambang di udara, berderinglah sebuah telepon selular yang teronggok di atas sajadah harapan. Kala itu hamba tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Hamba dibangunkan oleh gemuruh suara ring tone. Anehnya, suara selular itu tidak lagi menggelayutkan melodi seperti biasanya. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan. Kalau tidak salah seperti ini: Allahuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar... Kontan saja hamba terhenyak dan sempat kaget. Hamba mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton serbuk besi. Di dinding kamar hamba melihat detak jam yang mengarah pada nomor tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu hamba mulai merunut kata-kata.

    "Halo, siapa anda? Mengapa membangunkan hamba? Biarkan hamba beristirah barang sejenak." Hening, tak ada jawaban. Hamba pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba berimprovisasi. Tapi ketika hamba mau menutup telepon selular, hamba mendengar suara yang menggelegar. Bukan, suara ini bukan dari telepon selular, tapi dari segala penjuru mata angin. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, air mata tak bisa hamba bendung, dan rasa rindu mencengkram hamba dari belakang, rindu yang tak terdefinisi. Mungkinkah doa-doa hamba yang terdahulu akan terkabul? Siapakah gerangan yang bicara? Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, hamba harap seujumput cahaya itu yang bicara Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara. Suara itu makin keras terdengar. Suara itu berkata seperti ini.

    "Betulkah kau mencari istri yang sempurna?" Dengan terbata-bata hamba bilang,

    "Ya...ya..hamba mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan hamba yang belum terwujud ini?" Suara itu kembali berujar.

    "Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Hamba ikuti keinginannya. Hamba tutup mata hamba, dan berbaringlah. Riangnya hati hamba, sebentar lagi hamba akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh hamba akan hadir. Ah, suara itu hening. Hamba mulai memicingkan mata. Hamba lihat di sekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian hamba melihat pakaian hamba. Putih! Semua serba putih. Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir hamba. Lalu hamba melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, cantik rupawan.

    "Siapa anda?"

    "Hamba adalah amalan anda. Hamba tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri. Menikahlah dengan hamba, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini."


    Posted at 08:33 am by kormi
    Make a comment  

    Nikah Butuh Ilmu

    Ilmu qablal qaul wal amal. Itulah nasihat Imam Bukhari dalam Shahih-nya, ketika membahas tentang keutamaan ilmu. Bila diterjemahkan, artinya kurang lebih, "ilmu itu sebelum bicara dan beramal".

    ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
    Beliau, Imam Bukhari, ingin menjelaskan pada kita bahwa sebelum berbicara atau beramal hendaknya seorang muslim berilmu dahulu. Karena dengan ilmu tersebut, apa yang dibicarakan atau diamalkan menjadi terarah, termasuk amal salih, dan berbuah pahala. Sedangkan tanpanya akan menyesatkan pelakunya atau menjadikannya berdosa. Demikian pula menikah. Ia butuh ilmu qablal qaul wal amal. Bahkan ilmu nikah mutlak diperlukan agar ibadah satu ini benar-benar menjadi amal salih dan ladang pahala, bukan sekedar ritual untuk mengikuti kebiasaan manusia atau sarana penghalalan hubungan badan saja.

    Amalan Agung
    Dalam Kalam-Nya Allah menyebutkan bahwa pernikahan merupakan satu ikatan yang agung (mitsaqan ghaliza). Keagungannya tersebut tercermin dari rukun dan tata cara pernikahan yang tak boleh sembarangan, musti islami. Semua harus dijalankan sesuai tata laksana yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Selain juga, pernikahan itu sendiri membawa konsekuensi dan tanggung jawab yang berat bagi pelakunya. Tak salah juga bila menikah diibaratkan menjalankan separuh agama, karena memang besarnya ibadah yang satu ini.

    Mampu, Menikahlah!
    Dalam satu haditsnya Rasulullah bersabda,
    "Wahai para pemuda barangsiapa di antara kamu sekalian yang mampu menikah maka menikahlah karena ia lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah puasa, sebab ia bisa menjadi obat." (Muttafaqun Alaih)
    Hadits ini menganjurkan pada setiap pemuda agar menyegerakan menikah dan larangan untuk membujang. Karena, dengan menikah manusia akan terjaga hatinya, terjaga kemaluannya, juga tenang kehidupannya. Apa yang tadinya diharamkan (hubungan antara laki-laki dan perempuan) menjadi halal dilakukan.

    Gejala zaman sekarang, -dimana manusia lebih suka menyendiri daripada menikah- tak bisa dibenarkan dan termasuk perbuatan dosa. Apalagi dengan alasan, menikah hanya merepotkan, atau tanpa menikah pun bisa terpuaskan kebutuhan farji-nya. Maka yang seperti ini pelakunya diancam dengan dosa yang lebih besar, dan Rasulullah berlepas diri dari manusia jenis begini. Beliau bersabda, "Barang siapa tidak menyukai sunnahku maka dia bukan golonganku."

    Wajib, Sunnah, atau Mubah?
    Walaupun menikah termasuk amalan yang mesti disegerakan, namun tingkat kewajiban menjalankannya tergantung manusia dan keadaannya.

    Para ulama secara umum membagi hukum nikah menjadi 5 yaitu:

    1. Wajib
    Yaitu bagi lelaki yang sudah sangat berhasrat untuk menikah dan yakin bila tidak segera menikah akan terjerumus ke dalam dosa, yaitu zina. Secara maisyah pun telah siap dan berpenghasilan tetap. Sementara berpuasa tak dapat lagi menahan gejolak syahwatnya.

    2. Sunnah Muakkadah
    Apabila lelaki sudah berhasrat untuk menikah tetapi masih dapat menahan gejolak syahwatnya. Ia juga yakin dirinya dapat terhindar dari zina. Sedangkan jika ia menikah yang diharapkan hanya untuk memperoleh keturunan yang baik dan taat pada kedua orang tua.

    3. Haram
    Haram menikah bagi seorang lelaki yang belum memiliki pekerjaan dan atau penghasilan tetap, sehingga belum mampu menghidupi keluarga. Atau dirinya mengidap penyakit impotensi, kecuali kalau calon istri telah mengetahuinya dan menerima keadaannya.

    4. Makruh
    Apabila seorang lelaki –yang telah siap mental dan fisik- ingin menikah tapi ia khawatir akan menyusahkan atau menyengsarakan istrinya kelak. Bila kekhawatirannya tersebut meyakinkan, maka hukumnya berubah haram.

    5. Mubah
    Yaitu apabila seorang lelaki sudah mempunyai keinginan untuk menikah dan tidak khawatir terjerumus ke dalam zina. Jika ia menikah semata-mata untuk menyalurkan hasrat biologis saja. Sementara itu, kalau ia menikah dengan tujuan agar tidak terjerumus ke dalam zina, atau karena ingin mendapat keturunan, maka hukumnya menjadi sunnah.

    Pilih yang Salih
    Menikah juga tak sekedar asal nikah, tanpa peduli siapa yang akan menikahi atau dinikahinya. Islam telah menuntunkan dengan gamblang bahwa dalam memilih calon pendamping hendaknya mengutamakan agama dan budi pekertinya. Laki-laki dan perempuan sama saja.

    Sebagaimana sabda Rasulullah, riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa wanita dinikahi, karena 4 perkara yaitu kecantikan, kedudukan, harta, dan agamanya. Dari keempatnya tersebut beliau memerintahkan untuk memilih wanita yang baik agamanya. Karena wanita seperti itu akan membawa keberuntungan bagi suaminya. Demikian juga wanita. Ia juga harus mengutamakan agama lelaki yang datang meminangnya. Dalam hal ini wali yang berkewajiban memilihkan lelaki yang salih buat putrinya. Rasulullah bersabda, "Apabila telah datang kepadamu seorang lelaki yang kamu sukai agama dan budi pekertinya, maka nikahkanlah dengan anak gadismu. Karena kalau kamu tidak menikahkannya dikhawatirkan akan terjadi bencana dan kerusakan besar di muka bumi ini." (Riwayat Tirmidzi)


    Posted at 08:25 am by kormi
    Make a comment  

    Rumah Idaman

    Setiap keluarga tentulah mendambakan keturunan yang baik, rumah tangga yang aman dan damai, serta keberhasilan dari setiap anggota keluarganya dalam kehidupannya di dunia. Islam sebagai agama yang lengkap dan menyeluruh tidak hanya memberikan pedoman dalam menggapai dambaan setiap keluarga di dunia tapi juga secara lebih sempurna menuntun terbentuknya sebuah keluarga yang dapat mencapai kesuksesan di dunia dengan sasaran akhir kepada kesuksesan di akhirat.

    Salah satu penunjang bagi keberhasilan tujuan berumah-tangga adalah dengan menciptakan kondisi kehidupan di dalam rumah yang ideal. Rumah yang merupakan idaman bagi setiap muslim.

    Bagaimanakah sesungguhnya suatu rumah dapat dikatakan sebagai rumah idaman? Rumah sebagai wadah atau tempat berlangsungnya proses kehidupan berumah-tangga dari sepasang manusia kemudian diramaikan oleh anak dan keturunan, diawali pembentukannya dari satu ikatan suci yang disebut pernikahan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ar-Ruum ayat 21 yang artinya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

    Nikah adalah hubungan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan berdasarkan ikatan syara', cinta, kasih dan sayang. Awal pernikahan ini haruslah diawali dengan niat yang baik mengharapkan ridha Allah SWT semata dimana setiap pelakunya menyadari untuk terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah sehingga gerak nafas kehidupan dalam rumah itu selalu diwarnai oleh ketaqwaan kepada Allah SWT.

    Setelah proses pembentukan rumah ini diawali dengan baik marilah kita telusuri hakikat dari rumah itu sendiri sehingga ia dapat kita katakan sebagai rumah idaman.

    1. Rumah sebagai masjid


                 Rumah sebagai masjid adalah dengan mengkondisikan dan memperlakukan rumah sebagaimana kita bersikap dan bertindak terhadap masjid. Masjid sebagai pusat ilmu, sebagai tempat mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagai pusat pemerintahan, juga tempat pembinaan ruhiyah maupun jasadiyah bagi setiap muslim. Di dalam masjid kita beribadah kepada Allah SWT, di dalam masjid kita juga berinteraksi dengan saudara-saudara kita dengan baik, kita jaga lidah kita, kita jaga amarah kita, kita jaga segala tingkah laku kita.


                 Begitu pula seharusnya keadaan di rumah kita, jika kita benar-benar memahami hakikat dan fungsi dari rumah sebagai masjid. Kita jaga lidah kita terhadap anggota keluarga, kita lembutkan suara kita, ketaqwaan dan nuansa taqarrub kepada Allah sangat kental terasa.


                Di dalam masjid juga kita perhatikan hiburan apakah yang kita nikmati, tontonan apakah kita lihat, tak lain dan tak bukan tentunya tausiyah dan doalah yang kita dengar dan nikmati di dalam masjid. Ceramah dan kegiatan berjamaah yang teratur rapi-lah yang kita lihat. Bagaimana dengan di rumah kita? apakah seperti di atas atau musik dan lagu terkini serta film-film Hollywood bahkan Bollywood (dari India) yang menghiasi rumah kita?


                Satu hal penting juga kita perhatikan adalah kita jaga kesucian dan kebersihan dari masjid, lalu bagaimana dengan rumah kita? Selalu kita jagakah kebersihan dan kesucian rumah kita? Kita tengok tempat berwudhu di dalam masjid, jika ingin buang hajat diharapkan kita memakai alas kaki, apa maksudnya? Tak lain adalah untuk menjaga kesucian tempat berwudhu dan tempat shalat. Karena itu begitu pulalah seharusnya kita memperlakukan rumah kita. Terdapat batasan yang jelas antara kamar mandi dan ruangan lain di rumah kita dalam hal penjagaan kesuciannya. Di dalam masjid juga kita jaga agar jangan sampai terkena kotoran dan najis dari anak kita yang masih kecil, bagaimana dengan rumah kita? (selalu kita jagakah dari hal yang demikian?) Jika mereka muntah atau "ngompol" selalu kita bersihkan dan sucikan-kah sesuai dengan yang dituntunkan dalam ajaran Islam.


                 Memang hal-hal kecil demikian kadang-kadang sering terlupakan karena itu sebagai pengingat bagi diri kami sendiri terutama dan bagi saudara-saudaraku sekalian mari kita perlakukan rumah kita sebagaimana kita beradab dan berbuat terhadap masjid.

    2. Rumah sebagai sekolah


                Hal ini sebenarnya juga merupakan bagian dari fungsi rumah sebagai masjid namun marilah kita perinci lebih lanjut tentang fungsi dan hakikat rumah sebagaimana sekolah. Di sekolah terjadi proses belajar dan mengajar. Ada bapak dan ibu guru yang mengajar dan anak murid yang belajar. Begitu pula halnya di rumah, orang tua ayah dan ibu adalah layaknya seorang guru yang merupakan suri tauladan bagi murid/anak-anaknya. orang tua selayaknya mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai keislaman bagi putra putrinya sebagaimana yang disunnahkan dalam Hadits Riwayat Muslim berikut: "Bergaullah dengan anak-anakmu dan bimbinglah kepada akhlak yang mulia."


                Jelaslah di sini bahwa kita sebagai orang tua harus dapat bergaul dengan baik dengan anak-anak kita, bertutur kata yang baik, menyayangi mereka, dan membimbing mereka kepada akhlak yang baik. Di sini ditekankan adalah kata membimbing yang maksudnya adalah mengajarkan dan mencontohkan kemudian mengawasi mereka supaya terus berakhlak baik hingga masanya nanti mereka dapat mandiri dengan akhlak yang terpuji. Memang harus kita sadari pula berbagai keterbatasan yang kita miliki sebagai manusia, banyak sekali kekurangan-kekurangan, karena itu mulai saat ini kita harus banyak melakukan muhasabah, kita mohon ampunan dari Allah SWT, kita niatkan dan niat kita untuk berubah menjadi lebih baik.

    3. Rumah sebagai tempat kembali


                Rumah merupakan tempat kembali bagi setiap anggota keluarga. Coba kita perhatikan burung-burung dengan sarangnya. Sang Induk pergi mencari makan di pagi hari, menjelang malam ia pulang dengan membawa makanan untuk anak-anaknya. Ketika sang anak mulai dapat terbang mereka pun terbang bermain-main dan mencari makan untuk kemudian kembali lagi ke sarangnya. Hingga akhirnya tumbuhlah mereka menjadi dewasa dan mandiri untuk kemudian mereka dapat berusaha sendiri dan memiliki sarang-sarang mereka sendiri.


                Di sini kita dapat memetik hikmah dimana tiap-tiap anggota keluarga merasa betah dan nyaman di dalam rumah, mereka selalu kembali lagi ke rumahnya. Begitu pula dengan kita tentunya setiap individu di dalam rumah harus berusaha bersama-sama membuat suasana yang menyenangkan di dalam rumah. Rumah tersebut memberi suasana aman, damai, dan tentram. Rumah yang jauh dari suasana panas amarah dan silang sengketa. Rumah yang bersih dan tertata rapi sehingga tampak perbedaan yang nyata antara rumah manusia dengan kandang. Kalau kita lihat keadaan kandang, penghuninya terpaksa dan dipaksakan berada di dalamnya, jika si pemilik kandang malas maka kotor dan menjijikkanlah keadaan kandang itu. Adapun penghuni kandang juga acuh tak acuh dengan keadaan kandang.


                 Karena itu saudara-saudaraku marilah kita bangun dan jaga rumah kita bersama-sama sehingga tercipta lingkungan yang harmoni yang sejuk dipandang mata, nyaman dirasa dan terkenang dalam ingatan. Sehingga jika kelak anak-anak kita tumbuh dewasa mereka akan teringat dengan rumah orang tuanya, mereka akan contoh yang baik dan mereka dapat melakukannya karena mereka telah terbiasa berusaha bersama-sama orang tua mereka dikala mereka masih berada di dalam rumah bersama ayah dan ibu mereka.

    4. Rumah sebagai benteng ruhani


                 Terakhir apabila ketiga fungsi rumah diatas telah dapat kita pahami dan laksanakan dengan baik maka rumah dapat menjadi benteng ruhani bagi setiap penghuninya. Seperti yang telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim as ketika menegakkan landasan atau fondasi baitullah sebagaimana diriwayatkan dalam surat Al-Baqarah ayat 127-128. Ibrah dari ayat ini adalah kita seyogyanya dapat meletakkan dasar-dasar ketaqwaan dalam diri kita, isteri, dan anak-anak kita sehingga dapat menjadi benteng ruhani dari derasnya gempuran lingkungan di luar rumah.


                Dalam surat yang sama di ayat 128 Nabi Ibrahim as berdoa agar selalu diberikan ketaqwaan kepada Allah SWT serta selalu diberikan petunjuk dan hidayah dari Allah supaya tetap berada pada jalan yang lurus. Sehingga di sini kita dapat mengambil ibrah dimana kita harus selalu merasa diawasi oleh Allah SWT serta sifat tawakkal harus selalu ditanamkan dalam hati ini.


                 Begitu pula dalam interaksi di dalam rumah pengawasan dari orang tua kepada anak-anaknya juga diperlukan dimana kita sebagai orang tua menjaga agar jangan sampai anak kita tergelincir ke dalam lingkungan yang kurang baik seperti disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi yang artinya: "Seseorang mengikuti agama kawannya, karena itu perhatikanlah kepada siapa orang itu berkawan."

    Demikianlah sedikit makna dari hakikat dan fungsi rumah kita, marilah kita perbaiki keadaan rumah kita, memahami dan mengembalikan fungsi dan hakikat daripada rumah sehingga kelak tercipta dan terlahir para mujahid-mujahid yang siap membela dan menegakkan syiar Islam di dunia ini. (Abu Ashraf)[IMSA]


    Posted at 08:22 am by kormi
    Make a comment  

    Next Page